Kamis, 28 Februari 2013, di penghujung bulan Februari kemarin Gamedev (Game Developer) Bandung mengadakan Meetup untuk yang ketiga kalinya di Café S28, Jalan Sulanjana 28, Bandung. Meetup kali ini bertemakan “Post-Mortem and Business Development”. Apa itu Post-Mortem? Post-Mortem yaitu menganalisa kesulitan-kesulitan yang dialami oleh sebuah projek yang telah selesai, bisa dibilang kalau di dalam game development berarti sebuah produk game yang sudah rilis di pasar. Meetup yang dihadiri oleh lebih dari 30 orang ini dibuka dengan acara ramah tamah yang kemudian dilanjutkan dengan presentasi bebas dari beberapa developer yang ingin menceritakan produk mereka. Ada 4 Studio yang bercerita tentang pengalaman mereka yaitu, Aruline Studio, Hompimplay, Nightspade, dan Agate Studio. Namun, tidak hanya itu masih banyak studio yang juga meramaikan acara seperti, Tinker Games, Labu Games, Ulin Gameworks, Garuda Games, Whappa Games, Himaci Studio, Phinisi Studio, Kidalang, Atrova, M-Biz Global, dan Senja Solution.

2Developer pertama yang bercerita adalah dari Aruline Studio yang menceritakan produk mereka Countastic (http://bit.ly/13zVA6i) yang telah berhasil dipublish oleh Square Enix. Kemudian dilanjutkan oleh Agate Studio dengan game terbarunya yaitu Up In Flame (http://bit.ly/ZgIBRe) yang berhasil di-publish oleh Chillingo. Menurut PR Agate Studio, Bima Ratio, Agate Studio sangat senang sekali memiliki kesempatan untuk mengembangkan mobile game mereka yang pertama. Tim Up in Flame ini juga mendapat kesempatan belajar pemrograman baru yang menggunakan Unity Game Engine. Namun, waktu pengembangan Up in Flame ini juga bisa dibilang cukup lama, bahkan hampir memakan waktu setahun lebih. Hal ini dikarenakan mereka harus banyak merombak gameplay yang sudah hampir jadi agar disesuakan dengan saran-saran yang diberikan oleh publisher. Mereka juga harus melakukan penyesuaian ukuran asset atau gambar dengan resolusi layar pada IOS devices dan juga harus meng-efisienkan penggunaan memori yang ada agar tidak terjadi _crash _pada saat bermain. Bisa dibilang kendala utama adalah di teknis dan penyesuaian dengan _publisher _mereka yaitu Chillingo.

image

Berbeda dengan Agate Studio, Nightspade yang membawa game Give a Dam pun bercerita tentang kesulitannya dalam mengembangkan produk ini. Give a Dam (http://bit.ly/T0lJFU)  merupakan projek advergame yang bekerja sama dengan permen Chupachups, Chuck Studio dan BBH Singapura. Kesulitan yang dialami dari Nightspade lebih kepada proses pengembangan yang sering terjadi perubahan ide (revisi) terutama pada bagian visual karena standar yang harus dikejar lumayan tinggi. Kemudian karena game ini juga menggunakan karakter dari brand Chupa Chups sendiri yaitu Chuck, banyak batasan-batasan yang harus disesuaikan, seperti ekspresi, gaya, warna, dsb.

image

Last but not least yaitu Chandra dari Hompimplay menceritakan tentang perjalanannya bersama Jolly Jingle, http://bit.ly/ZDDqvS. Menurut Chandra, ada beberapa poin kesulitan yang dihadapi saat pengembangan Jolly Jingle, yaitu :

  1. Jolly Jingle merupakan aplikasi musik sehingga memiliki titik berat di musik dan kualitas voice talent-nya juga harus yang benar-benar superb dan tentu saja pencarian penyanyi juga menjadi tantangan tersendiri dan membutuhkan waktu yang lama.
  2. Self-Publishing, beberapa aplikasi dari Hompimplay sendiri sebetulnya sudah pernah melakukan self-publishing dengan pemasaran yang cukup eksperimental. Namun kali ini Hompimplay mencoba serius dalam self-publishing Jolly Jingle, yaitu dengan memulai riset marketing dan marketing plan yang sudah disiapan 2 bulan sebelum peluncuran.
  3. Seasonal, Jolly Jingle merupakan aplikasi yang bertemakan Natal, Aplikasi seasonal biasanya memiliki exposure yang sangat tinggi saat momennya tiba. Namun, ketika season / waktunya telah berakhir maka eksposure-nya akan menurun drastis.

image

Finally, dikarenakan waktu sudah hampir menunjukkan pukul 10.00 malam maka berakhirlah meetup gamedev Bandung ini. Dari sharing keempat studio diatas bisa dibilang masih banyak hal yang harus dipelajari oleh game developer di Indonesia, tidak hanya permasalahan teknis saja namun juga masalah self-publishing dan marketing yang juga perlu dipikirkan dari jauh-jauh hari jika memang ingin terjun seutuhnya di industri ini. Namun, tetap semangat untuk semuanya developer-developer muda yang sedang merintis game-game terbarunya. Diharapkan meetup kali ini bisa membantu memberikan solusi bagi teman-teman yang baru terjun di industri game. Jadi, kalau ada yang mau ikutan next meetupnya dateng aja jangan malu-malu karena tema meetup berikutnya akan lebih menarik lagi dan mudah-mudahan bisa ditraktir Nokia. 😛

image